Pages

Come and be with me

20101217

Mengapa Kau Sakiti Ibu seperti ini, Nak..?

Dicoret oleh; Nurain Shukree at 9:18 am
Reactions: 
0 komen dari pembaca Links to this post
Dicapai daripada: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/05/16/mengapa-kau-sakiti-ibu-seperti-ini-nak/

Diusia ku yang masuk kepala dua, aku rasa, aku adalah makhluk yang paling beruntung di dunia ini. Dengan fisik yang sangat luar biasa, yang bisa membuat lelaki lain merasa iri, karena tidak di kurnia fisik seperti fisikku, materi yang membuwat aku tidak mengalami kesulitan sedikitpun untuk mendapatkan barang-barang yang aku ingin, pun kini aku genggam.

Anugerah fisk dan materi yang memadai, membuwat aku dengan sangat gampangnya untuk bisa gunta-ganti cewek, se suka ku. Dari mulai cewek yang masih bersegam Putih-Abu, sampai dengan cewek yang sudah berstatus sebagai istri laki-laki lain. Ketika aku menginginkan, aku tidak pernah mengalami kesulitan sedikitpun.

Dalam satu bulan, tidak jarang aku menjalin dan melakukan hubungan sedikitnya dengan 4 orang cewek, tanpa harus merasa terbebani harus bertanggung jawab, toh mereka sendiri merasa beruntung bisa menjalin hubungan dengan aku. Bahkan, kalau lebih dari hanya sekedar menjalin hubungan, mereka merasakan mendapat anugerah yang super besar, karena merasa telah terpilih oleh aku.

Namun, kemudian masalah kecil muncul, ketika aku merasa mencintai pada salah seorang “temen” ku, yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Masalah muncul bukan karena dia tidak mau menerima kehadiran Aku. Tapi, karena dia meminta konskwensi dari aku. Karena aku merasa telah “jatuh,” dengan sangat berat hati, akhinya aku sanggupi syarat itu, meskipun sangat berat: Aku harus setia dengan dia, dan melangkah ke jenjang pernikahan.

Dia pengen anak yang dia kandung hasil hubungan nya dengan aku ini mendapatkan status sebagai anak ku.

Masalah besar mncul, ketika aku mencoba memberi tau orang tua ku seputar rencana pernikahan kami. Dengan penuh ke takutan, aku mencoba mencari kata-kata yang pas untuk disampaikan kepada orang tua ku, bahwa, calon menantunya ini telah mengandung anak aku, yang juga calon cucunya.

Dengan penuh ke Grogian, akhirnya kami, aku dan calon istriku, perempuan yang telah mengandung anakku, mendapatkan kesimpulan untuk menceritakan semuanya, tanpa ada yang di buwang sedikitpun dari orang tua ku.

Seketika, kegagahan yang aku bangga-bangakan selama ini, seakan-akan menghilang, laksana biola tak berdawai, tak ada artinya sedikitpun. Aku, yang selama ini telah di sanjung dan dihoramti oleh orang banyak, seketika, merasa teramat sangat kecil, saat ibu mencoba menangapi kabar yang aku berikan, telingaku laksana mendengar gemerincing lonceng yang di deraikan persis di telingaku.

“Nak, kenapa kamu sampai melakukan itu semua, Nak…. Selama ini, Ibu tidak pernah menuntut kamu untuk memenuhi kebutuhan hidup Ibu, meskipun kamu telah lebih dari cukup. Ibu tidak memaksa kamu untuk pulang tiap bulan untuk mengobati kerinduan ibu, karena ibu tau, kamu sibuk. Ibu rela dan ikhlas, tetap mengandalkan usaha Ibu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari ibu. Ibu, hanya bisa memandangi photo mu, untuk sedikit mengobati kerinduan padamu Nak. Ibu rela, dan tidak berharap kamu mengganti biaya yang ibu berikan untuk sekolah dan kuliah mu, Nak..Ibu rela… karena itu kewajiban Ibu, Nak…”

“Tapi, kenapa lantas kamu tega menyakiti hati Ibu, Nak… kamu telah melukai hati Ibu, yang entah apakah sangup untuk diobati… Kamu telah mengkhianti Ibu, Nak…. Kamu, yang selama ni Ibu banggakan, ternyata kamu tidak pernah bangga dengan dongeng-dongeng ibu saat kecil sampai dewasa ini, Nak…”

“Nak, Ibu tau, kamu manusia modern yang hidup di kota besar, Nak… kehidupan kamu sekarang sangat jauh berbeda dengan kehidupan kamu di kampong dulu, Nak.. dan itu yang membuat Ibu bangga… kamu telah sukses dan berhasil secara materi.. tapi kenapa justru itu mengalahkan Spiritual dan Emosi mu, Nak..kenapa???”

“Nak, kapan pun dan dimanapun, yang namnya berhubungan badan diluar nikah itu adalah dosa, Nak..Dosa besar… Tidak ada suatu agama pun yang membolehkan itu, Nak… Bukan.. bukan hanya dikampung saja, hokum itu berlaku, Nak..tapi juga berlaku untuk orang-orang yang hidup di kota seperti kamu, Nak… Nak, Ibu sangat terpukul dan merasa sakit hati, dengan kabar yang kamu samapaikan, Nak… Sangat terpukul”

“Entah, apakah Ibu bias memaafakan mu, Nak….meskipun mungkin kamu sudah tidak menghiraukan aku, Ibu mu Nak… Entah, apakah Ibu tidak menaruh dendam, dengan cara membiarkan kamu menginjak rumah yang telah di bangun oleh aku dan Bapakmu ini, Nak… Entah, Nak….”

Sampai dengan kata-kata itu, Ibu tiba-tiba terjatuh. Aku, yang didampingi oleh calon istriku yang juga mengandung calon anakku, mencoba untuk menolong ibu, dengan membawa Ibu ke kamar tidur ibu.

Ketakutanku semakin memuncak, ketika tubuh Ibu tidak memperlihatkan bergerak dengan normal, sebagai cirri nafas yang normal. Detik-demi detik, denyut itu semakin pelan, dan akhirnya…… sama sakli tidak ada….

Ibu, yang saat aku datang beberapa menit yang lalu, menyambut dengan wajah penuh senyum dan sumingah itu, benar-benar telah ditingalkan oleh Ruh nya.

Ruh meninggalkan Ibu, beberapa saat setelah aku memberi kabar bahwa aku akan menikah dengan seorang perempuan yang saat ini telah mengandung anakku…

Ibu, maafkanlah aku, yang selama hidup Mu, aku tidak pernh sekalipun membahagiakan Mu, Ibu…

Ibu, aku tau, perbuatanku telah jauh dari kata-kata “maaf” dari Mu, Ibu….

Tapi, Ibu.. Demi Tuhan yang Nyawaku berada di Tangna-Nya, Aku tidak akan pernah merasa bahagai dalam hidup dan matiku kelak, jika aku tidak mendapatkan maaf, dan restu Mu, wahai malhluk yang sangat di Mulikan Tuhan di dunia ini, Engkau Ibu….

Ibu, maafkan aku, yang telah melupakan nilai-nilai moral dan agama yang senantiasa kau berikan pada ku, sejak aku belajar bicara dan mampu mendengar, Ibu…

Ibu, maafkan aku Ibu…maafkan aku….maafkan aku Ibu…..
 

Shain Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea